‎Festival Goa Sentono 2026 Menyala! Kades Mendenrejo Hadirkan Inovasi Kostum dan Seni Rakyat Bertema “Urip kang mawa urip

‎Festival Goa Sentono 2026 Menyala! Kades Mendenrejo Hadirkan Inovasi Kostum dan Seni Rakyat Bertema “Urip kang mawa urip

Spread the love

‎Festival Goa Sentono 2026 Menyala! Kades Mendenrejo Hadirkan Inovasi Kostum dan Seni Rakyat Bertema “Urip kang mawa urip”

‎Kompasmerdeka.com

‎BLORA – 8 Agustus 2026 – Semangat kehidupan dan kelestarian budaya kembali menyala terang di kawasan bersejarah Goa Sentono. Festival Goa Sentono tahun 2026 hadir dengan wajah yang lebih segar, penuh warna, dan sarat makna mendalam, di bawah arahan serta paparan langsung Kepala Desa Mendenrejo Kecamatan Kradenan Kabupaten Blora, Perhelatan budaya tahun ini mengusung tema yang penuh filosofi luhur: “Urip kang mawa urip” — Menyala di Goa Sentono.

‎Dihadiri oleh: Ibunda Hj. Ainia Shalichah, Ika Dewi Susanti (Fraksi Gerindra) Dapil: Blora 3 (Jati, Kradenan, Randublatung) Komisi: Komisi D DPRD Kabupaten Blora, Ketua Dekranasda Blora, Dinporabudpar, Forkompincam, Kepala desa mendenrejo, Dosen dan Mahasiswa UNS solo, Dosen ISI.

‎Tema yang diambil bukan sekadar rangkaian kata indah, melainkan cerminan jiwa dan semangat pelestarian budaya yang terus hidup. “Urip kang mawa urip” berarti kehidupan yang membawa kehidupan — sebuah pesan bahwa budaya yang dijaga dengan tulus akan terus bersemi, memberi manfaat, dan menerangi kehidupan generasi demi generasi. Inilah yang menjadi semangat utama penyelenggaraan Festival Goa Sentono 2026, agar warisan leluhur tidak sekadar diingat masa lalu, melainkan terus menyala dan memberi kehidupan bagi masyarakat masa kini.

‎Dalam penjelasannya, (Supari) Kepala Desa Mendenrejo menyampaikan bahwa langkah revitalisasi yang dilakukan tahun ini difokuskan pada dua hal utama: inovasi kostum pertunjukan dan penyegaran seni rakyat khas Blora. Pembaruan tersebut dilakukan bukan untuk mengubah jati diri tradisi, melainkan agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya semakin terlihat memukau, semakin mudah diterima, dan semakin dicintai oleh seluruh lapisan masyarakat, terutama generasi muda.

‎”Kami ingin budaya kita tetap hidup dan menyala layaknya cahaya yang tak pernah padam. Kostum yang kami tampilkan telah dikreasikan dengan sentuhan kreativitas baru, namun tetap memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal. Motif, warna, hingga hiasan pada setiap busana terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya Blora, disusun dengan penuh keindahan sekaligus menjaga makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Setiap lipatan kain, setiap corak yang tergambar, semuanya memiliki arti dan pesan yang ingin kami sampaikan,” ujar Supari.

‎Tak kalah memukau, pertunjukan seni rakyat yang menjadi jantung dari festival ini juga dikemas dengan semangat pembaruan. Seni Barongan, Tayub, tarian, serta pertunjukan rakyat lainnya tetap mempertahankan irama, cerita, dan pesan luhur yang diwariskan turun-temurun. Namun, penyajiannya kini tampil lebih hidup, dinamis, dan memikat hati. Gerakan, iringan musik, hingga cara penyampaian pesan dikemas lebih segar tanpa menghilangkan jati diri aslinya. Semua ini dilakukan agar nilai-nilai luhur yang dibawakan dapat terus dirasakan kehadirannya dan menyentuh hati siapa saja yang menyaksikannya.

‎Kepala Desa Mendenrejo (Supari) juga menegaskan bahwa tema “Urip kang mawa urip” harus menjadi cerminan nyata dari setiap langkah yang diambil. Budaya yang hidup adalah budaya yang mampu memberi manfaat, memberi inspirasi, dan menyatukan hati masyarakat. Oleh karena itu, seluruh rangkaian festival disusun dengan penuh tanggung jawab, menjaga kesakralan tempat, serta menghormati nilai-nilai yang telah dijunjung tinggi sejak masa lampau.

‎”Goa Sentono adalah tempat yang penuh berkah dan sejarah. Di sinilah akar budaya kita tumbuh. Melalui festival ini, kami ingin menyalakan kembali semangat cinta akan warisan leluhur. Biarlah cahaya budaya dari Goa Sentono terus menyala, membawa kehidupan dan kebahagiaan bagi masyarakat Desa Mendenrejo serta seluruh Kabupaten Blora,” tambahnya dengan penuh harap.

‎Antusiasme masyarakat pun terlihat sangat nyata sejak awal rangkaian kegiatan digelar. Warga berbondong-bondong hadir, tak hanya sekadar menyaksikan pertunjukan, melainkan ikut merasakan kehangatan dan kebersamaan yang tumbuh dari semangat melestarikan budaya. Kostum yang memukau, seni yang menyejukkan hati, serta pesan luhur yang disampaikan menjadi satu kesatuan yang menyentuh perasaan setiap orang yang hadir.

‎Dengan berakhirnya perhelatan ini, harapan besar pun terangkum bersama tema yang diusung: semoga cahaya budaya dari Goa Sentono terus menyala tak pernah padam. Semoga “Urip kang mawa urip” — kehidupan yang membawa kehidupan — senantiasa menjadi semangat yang menjaga warisan leluhur tetap lestari, berkembang, dan menjadi kebanggaan bersama sepanjang masa.

‎Johan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *