*KOMPAS MERDEKA COM*
*Tambora, Dompu —* Dari lereng sunyi Gunung Tambora yang menyimpan legenda letusan dahsyat 1815, kini mengalir sebuah keajaiban baru yang tidak kalah monumental. Bukan lahar, bukan abu vulkanik, melainkan air jernih yang menjadi nadi kehidupan. Di kaki gunung yang pernah mengguncang dunia itu, masyarakat dengan tangan mereka sendiri telah mengubah aliran air menjadi denyut peradaban.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Selama puluhan tahun, warga di lereng Tambora hidup dalam paradoks ekologis yang ironis. Mereka berdiam di kawasan dengan curah hujan tinggi dan mata air melimpah di hulu, namun secara distribusi mereka mengalami krisis akses air bersih yang kronis. Air ada, tetapi tidak terkelola.
Kini, melalui semangat gotong royong yang diwadahi oleh kelompok pelaksana Desa Tambora (POKMAS), sebuah sistem penyediaan air bersih dibangun dari hulu ke hilir, dari pegunungan menuju rumah-rumah warga. Pembangunan ini dilaksanakan sesuai dengan Standar Operasional Prosedur program pemberdayaan masyarakat. POKMAS dibentuk melalui musyawarah desa secara partisipatif, transparan, dan akuntabel.
Namun, kemegahan infrastruktur ini hanya akan abadi jika dijaga dengan disiplin peradaban. Untuk itu, kami mengingatkan kepada seluruh masyarakat pengguna air, khususnya yang lahannya dilewati jaringan pipa melintasi kebun dan ladang pertanian, agar menjadi garda terdepan penjaga ketertiban. Jangan mengambil tindakan sendiri dengan melubangi pipa atau membocorkan jaringan untuk mendapatkan air. Apabila membutuhkan sambungan atau menemukan kerusakan, melaporlah kepada pemerintah desa dan petugas air agar tercipta kenyamanan dan tertib prosedur sesuai kesepakatan bersama. Apabila terjadi pelanggaran, akan diberikan sanksi administratif sesuai hasil kesepakatan.
Dan renungkanlah ini dengan kedalaman intelektual: apa yang kita jaga hari ini bukanlah sekadar pipa dan bak penampung, melainkan warisan hidrologis untuk anak cucu kita kelak. Jika air ini dirawat dengan baik, dikelola dengan etika ekologis, dan dilestarikan secara berkelanjutan, maka ia akan terus mengalir melampaui usia kita. Oleh karena itu, pelestarian radius mata air adalah imperatif moral yang tidak bisa ditawar. Tanamilah kembali kawasan resapan dengan kayu-kayu pelindung mata air melalui gerakan reboisasi yang terencana. Setiap pohon yang ditanam hari ini adalah kontrak masa depan yang kita tanda tangani untuk cucu kita.
Sebagai wujud komitmen terhadap marwah jurnalisme, MEDIA KOMPAS MERDEKA COM menyatakan akan selalu setia mengawasi dan mengawal setiap kegiatan yang berkaitan dengan Anggaran APBN PAMSIMAS Desa Tambora, Kecamatan Pekat, Kabupaten Dompu, agar berjalan sesuai rencana, tepat sasaran, dan penuh integritas. Kami hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menerangi. Kami akan menjadi mata publik yang jernih, menjadi cermin yang jujur bagi para pelaksana, memastikan setiap rupiah uang negara yang bersumber dari keringat rakyat benar-benar menetes menjadi air kemaslahatan bagi rakyat. Inilah janji kami: mengabdi pada kebenaran, berpihak pada kepentingan publik, dan menjaga api transparansi agar tidak pernah padam di lereng Tambora.
Air yang kini mengalir deras ke pemukiman telah bertransformasi menjadi nadi kehidupan yang menghidupkan sawah, kebun kopi, dan peternakan warga. Inilah yang menjadikan masyarakat lereng Tambora layak disebut sebagai pahlawan peradaban. Jika dulu Tambora dikenal dunia karena letusannya yang mengubah iklim global, maka kini Tambora akan dikenang karena airnya yang menghidupkan dan masyarakatnya yang memuliakan kehidupan. Dari lereng legenda, mengalir keajaiban. Dari air, lahir nadi. Dari masyarakat, lahir peradaban.
*Jurnalis: BENNY TAMBORA*
















Komentar