P3-TGAI 2026 di Desa Malaju Digarap Swakelola P3A Mada Oi Papa, Dorong Ketahanan Pangan Petani
NTB Kompasmerdeka.com
DOMPU — Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) Tahun Anggaran 2026 mulai dilaksanakan secara swakelola oleh Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Mada Oi Papa di Desa Malaju, Kecamatan Kilo, Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat.
Program tersebut diwujudkan melalui kegiatan Pembangunan, Rehabilitasi dan Peningkatan Jaringan Irigasi D.I. Patula, dengan tujuan meningkatkan akses air irigasi bagi lahan pertanian sekaligus mendukung produktivitas dan ketahanan pangan masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kegiatan ini bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 dengan nilai anggaran sebesar Rp195 juta dan waktu pelaksanaan selama 90 hari kalender. Pelaksana kegiatan adalah P3A Mada Oi Papa, di bawah Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum, Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara I Mataram.
Pelaksanaan secara swakelola diharapkan dapat memastikan pembangunan jaringan irigasi lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat petani. Selain mempercepat pekerjaan, sistem tersebut juga memberikan ruang bagi petani untuk terlibat langsung dalam pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi.
Program P3-TGAI di wilayah tersebut disebut merupakan hasil perjuangan aspirasi H. Mori Hanafi, S.E., Anggota DPR RI Dapil NTB 1 Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra.
Sebagai bentuk transparansi dan keterbukaan informasi publik, papan informasi kegiatan telah dipasang di lokasi pekerjaan. Papan tersebut memuat informasi mengenai nama kegiatan, lokasi, sumber dana, nilai anggaran, waktu pelaksanaan, serta pihak pelaksana.
Keberadaan papan informasi tersebut diharapkan dapat memudahkan masyarakat melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan penggunaan anggaran negara yang transparan dan akuntabel.
Ketua P3A Mada Oi Papa, Ishaka H. Ahmad, mengatakan sistem swakelola diharapkan membuat manfaat program dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat petani.
“Dengan sistem ini pekerjaan lebih cepat, biaya efisien, dan manfaatnya langsung kami rasakan. Semua dilaksanakan sesuai SOP dan aturan yang berlaku,” ujarnya.
Sementara itu, Julhaer, yang mewakili masyarakat petani Oi Papa, Desa Malaju, berharap pembangunan dan peningkatan jaringan irigasi tersebut dapat mengatasi persoalan ketersediaan air, terutama pada musim tanam kedua dan ketiga.
“Selama ini kami terkendala air di MT 2 dan MT 3. Dengan P3-TGAI ini kami optimistis produksi naik dan ketahanan pangan keluarga terjaga,” katanya.
Menurutnya, ketersediaan air yang memadai sangat menentukan keberhasilan petani dalam meningkatkan intensitas tanam. Dengan jaringan irigasi yang lebih baik, petani berharap lahan pertanian dapat dimanfaatkan secara optimal hingga memungkinkan peningkatan pola tanam menjadi tiga kali dalam setahun, sesuai kondisi dan ketersediaan air.
Munawar Rahman, selaku pengamat pengairan, menilai pelaksanaan secara swakelola oleh P3A dapat menjadi langkah tepat apabila dilaksanakan sesuai ketentuan, standar teknis, serta pengawasan yang memadai.
“Jika dikelola sesuai UU dan SOP, pemeliharaan akan berkelanjutan. Dampaknya meningkatkan produktivitas, membuka lapangan kerja, dan menguatkan ketahanan pangan dari desa,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan jaringan irigasi tidak hanya ditentukan oleh kualitas pekerjaan fisik, tetapi juga oleh komitmen masyarakat dalam menjaga dan memelihara jaringan setelah kegiatan selesai.
Masyarakat berharap Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara I Mataram terus memberikan pendampingan teknis serta melakukan pengawasan selama proses pelaksanaan hingga pekerjaan selesai. Dengan demikian, pembangunan jaringan irigasi D.I. Patula diharapkan benar-benar memberikan manfaat jangka panjang bagi petani Desa Malaju dan sekitarnya.
Program P3-TGAI tersebut diharapkan tidak hanya menjadi pembangunan infrastruktur irigasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian petani, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mendukung ketahanan pangan masyarakat dari tingkat desa.
Jurnalis: Benny Tambora
















Komentar