*KOMPAS MERDEKA COM*
_dompu, 4 september 2026_
kekesalan terhadap keluar-masuknya wisatawan asing di pulau setonda tanpa kontrol adalah reaksi yang terlambat. karena pangkal persoalannya bukan pada tamu yang datang, melainkan pada absennya negara, dalam hal ini pemerintah daerah kabupaten dompu, untuk hadir dan mengelola aset strategisnya sendiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
pulau setonda danau satonda adalah wajah pariwisata kecamatan pekat. ia bukan sekadar objek foto. ia adalah aset ekonomi, aset ekologi, dan aset kedaulatan wilayah. ketika 5 sektor utama ini kita biarkan kosong, maka wajar jika pihak luar masuk tanpa permisi. padahal jika dikelola serius, sektor ini bisa menjadi mesin penggerak kesejahteraan umkm di pekat dan dompu secara umum.
berikut 5 aitem kritis yang harus segera diwujudkan:
#### *1. absennya pengawasan dan kelembagaan pengelolaan wisata*
*kenapa ini penting:*
pulau setonda saat ini ibarat rumah yang pintunya terbuka lebar tanpa penjaga. tidak ada badan pengelola, tidak ada petugas lapangan, tidak ada aturan kunjungan yang ditegakkan oleh daerah. akibatnya kapal wisatawan asing bisa masuk-keluar kapan saja tanpa lapor, tanpa retribusi, tanpa standar keamanan.
*karena apa:*
pemerintah daerah belum membentuk kelembagaan yang jelas. tidak ada sk tim pengelola, tidak ada pos jaga, tidak ada sop. di saat destinasi lain sudah punya sistem tiket, guide resmi, dan ranger, setonda masih diserahkan pada “nasib”.
*dampaknya:*
kedaulatan kita diuji. potensi pad hilang. ekosistem terancam. umkm lokal tidak kebagian. pedagang, ojek wisata, pemandu, dan penginapan rakyat tidak masuk dalam rantai ekonomi karena tidak ada sistem yang mengatur.
#### *2. aset yang dibangun apbn dibiarkan mati: kantor di pantai branti, desa nangamiro*
*kenapa ini penting:*
di pantai branti, desa nangamiro, pernah berdiri kantor wisata yang dibangun dengan anggaran apbn. fasilitas itu adalah bukti negara pernah hadir. tapi hari ini kondisinya memprihatinkan: tidak terawat, tidak difungsikan, bahkan cenderung ditelantarkan.
*karena apa:*
tidak ada alokasi apbd untuk pemeliharaan. tidak ada sdm yang ditugaskan. tidak ada rencana pemanfaatan. setelah seremonial selesai, aset dibiarkan lapuk dimakan waktu dan garam.
*dampaknya:*
ini pemborosan uang rakyat. padahal jika difungsikan, kantor ini bisa jadi pusat informasi, kios umkm, dan titik kumpul pelaku ekonomi kreatif. alih-alih menghidupi warga, aset ini justru jadi monumen kelalaian.
#### *3. infrastruktur penyangga wisata dan keselamatan warga abai: tanggul pemecah gelombang*
*kenapa ini penting:*
sepanjang pesisir pekat, khususnya yang berbatasan langsung dengan laut menuju setonda, tidak ada tanggul pemecah gelombang yang memadai. padahal ini menyangkut dua hal: keselamatan nelayan dan kenyamanan wisatawan.
*karena apa:*
perencanaan tata ruang pesisir tidak diikuti dengan investasi infrastruktur. abrasi dibiarkan. akses dermaga tidak ditata. padahal tanpa infrastruktur dasar, mustahil kita bicara “wisata kelas dunia”.
*dampaknya:*
nelayan kehilangan tempat sandar aman. investor enggan masuk. umkm kuliner, kerajinan, dan jasa transportasi laut tidak tumbuh karena akses wisatawan tidak nyaman dan tidak aman.
#### *4. keunikan ekologis danau satonda tidak dikelola sebagai warisan dunia*
*kenapa ini penting:*
danau satonda adalah danau vulkanik yang sangat unik dan majemuk. memiliki ekosistem air asin di tengah pulau, dikelilingi hutan, dan menyimpan nilai geologi, biologi, serta budaya. ini bukan danau biasa. ini laboratorium alam.
*karena apa:*
belum ada masterplan konservasi. belum ada riset berkelanjutan. belum ada edukasi kepada masyarakat sekitar. promosi dilakukan tapi perlindungan tidak. kita jual, tapi tidak kita jaga.
*dampaknya:*
keunikan itu bisa rusak karena sampah dan eksploitasi. padahal danau ini bisa jadi magnet ekowisata yang menghidupi umkm homestay, kuliner lokal, guide masyarakat, dan produk kerajinan berbasis budaya dompu.
#### *5. pembentukan satgas pemadam kebakaran hutan tambora: jangan sekadar mimpi, harus langkah nyata*
*kenapa ini penting:*
kawasan hutan tambora adalah paru-paru dompu dan benteng ekologi pekat. setiap musim kemarau ancaman kebakaran hutan selalu mengintai. tanpa tim yang siaga, satu percikan api bisa melahap ribuan hektar hutan, merusak sumber air, dan menghancurkan habitat wisata.
*karena apa:*
selama ini wacana pembentukan satgas pemadam kebakaran hutan tambora hanya berhenti di atas kertas dan pidato. belum ada posko tetap, belum ada peralatan standar, belum ada pelatihan rutin untuk relawan dan masyarakat desa penyangga hutan. anggaran hanya muncul saat api sudah membesar.
*dampaknya:*
ketika kebakaran terjadi, hutan rusak, sumber air mati, dan sektor wisata lumpuh. umkm yang menggantungkan hidup dari wisata alam, madu hutan, dan hasil hutan non-kayu ikut kolaps. padahal pencegahan jauh lebih murah daripada pemadaman.
*langkah nyata yang harus diambil hari ini:*
bentuk satgas resmi dengan sk bupati, tempatkan posko di titik rawan, lengkapi dengan peralatan dasar, latih masyarakat, dan anggarkan setiap tahun. libatkan umkm lokal sebagai penyedia logistik dan tenaga satgas. jaga hutan sekarang, sebelum terlambat.
—
#### *kaitan langsung dengan kesejahteraan umkm*
jika sektor wisata di kecamatan pekat dan kabupaten dompu terus digalakan dan dikembangkan dengan serius, maka dampaknya akan langsung dirasakan umkm.
warung makan akan ramai, pengrajin tenun dan cenderamata laku, jasa transportasi laut dan darat hidup, homestay warga penuh, pemandu wisata lokal punya penghasilan tetap. wisata bukan hanya soal keindahan, tapi soal perut rakyat.
tapi semua itu hanya bisa terjadi jika pemerintah hadir. bentuk badan pengelola, rawat aset, bangun infrastruktur, jaga lingkungan, dan libatkan umkm dalam setiap kebijakan. jangan biarkan wisatawan datang, uangnya pergi, dan rakyat pekat hanya jadi penonton di tanahnya sendiri.
—
#### *kesimpulan: jangan salahkan tamu, salahkan tuan rumah yang tidak ada*
bupati dompu berhak kesal. tapi kekesalan itu harus berubah menjadi kebijakan.
warga pekat sudah terlalu lama menunggu. kami tidak butuh wacana. kami butuh sk pengelola. kami butuh anggaran perawatan. kami butuh petugas. kami butuh tanggul. kami butuh satgas yang bekerja, dan kami butuh ruang bagi umkm untuk tumbuh.
*pulau setonda, danau satonda, dan hutan tambora bukan milik wacana. ia milik rakyat pekat. dan rakyat berhak menuntut bukti nyata, bukan pidato.*
kalau kita serius menjadikan pariwisata dan lingkungan sebagai masa depan pekat dan dompu, maka mulai hari ini: bentuk timnya, anggarkan, turunkan petugasnya, rawat asetnya, dan libatkan umkm.
kalau tidak, maka kita harus legowo ketika “tamu” lebih berkuasa di rumah kita sendiri.
*_jurnalis
benny tambora_*
















Komentar