Kedamaian yang sejati tidak pernah lahir dari keramaian argumen dan tidak pernah tumbuh dari kelompok yang hanya akrab dengan kelompoknya sendiri. Kedamaian yang sejati lahir dari hidup dalam iman yang hidup, dan iman yang hidup itu wujud nyatanya adalah saling membantu dan saling menguatkan satu sama lain.
Di tengah kehidupan masyarakat hari ini, kita menyaksikan pemandangan yang ironis. Ada mereka yang begitu rajin melangkahkan kaki ke rumah ibadah, begitu akrab dan solid, namun keakraban itu hanya berlaku untuk kelompoknya sendiri. Mereka membangun tembok tinggi di sekeliling kelompoknya. Di dalam tembok itu mereka merasa paling benar, paling menang dalam urusan simbol. Namun di luar tembok itu, hati mereka miskin kasih. Mereka menang dalam simbol, dalam cara berpakaian dan berbicara. Tapi mereka kalah telak dalam kekayaan hati.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Latar belakang tulisan ini lahir dari luka dan pelajaran hidup yang panjang. Bertahun-tahun penulis mencoba hidup dengan prinsip memberi. Ketika ada saudara yang sakit, dibantu dengan pengobatan dan doa. Ketika ada yang susah, diulurkan tangan semampunya. Tidak pernah ada rasa ego, tidak pernah ada hitungan untung rugi, tidak pernah ada rasa dengki.
Namun kehidupan memberikan pelajaran yang pahit. Disaat roda kehidupan berputar dan penulis berada di titik yang susah, di titik yang membutuhkan topangan, mereka yang dulu pernah dibantu itu justru menjauh. Langkah mereka menjauh, pintu mereka tertutup. Lebih menyakitkan lagi, di belakang, mereka justru menceritakan keburukan, menabur cerita yang tidak benar. Mereka yang tampak taat, ternyata masih menyimpan dengki dan merasa bahagia ketika melihat orang lain susah.
Inilah potret manusia yang berpenampilan taat namun belum memiliki iman yang hidup. Karena iman yang hidup tidak akan pernah membiarkan hatinya bahagia di atas penderitaan orang lain.
Tujuan tulisan ini bukan untuk membuka aib siapapun. Tujuan tulisan ini adalah sebagai cermin yang jernih bagi kita semua. Untuk mengingatkan kembali bahwa tujuan tertinggi dari hidup berkeyakinan adalah untuk menciptakan kedamaian, bukan permusuhan.
Bagaikan sebuah pelita. Untuk apa sebuah pelita dinyalakan jika hanya diletakkan di bawah tempayan dan hanya menerangi tempayan itu sendiri? Pelita yang sejati harus diletakkan di tempat yang tinggi, agar cahayanya menerangi seluruh isi rumah, menerangi semua orang tanpa terkecuali.
Bagaikan sebuah pohon besar yang tumbuh di tepi sungai. Pohon yang tulus itu tidak pernah bertanya siapa yang akan berteduh di bawahnya. Akarnya menghujam dalam, batangnya tegak berdiri menahan badai fitnah, dan ketika musimnya tiba, buahnya yang manis bisa dimakan oleh siapa saja, bahkan oleh mereka yang pernah melemparinya dengan batu.
Orang yang tulus membantu sesama, sesungguhnya ia sedang menguatkan pondasi hidupnya sendiri. Sebaliknya, orang yang menyimpan dengki dan merasa bahagia melihat orang lain susah, sesungguhnya ia sedang merobohkan rumah kedamaiannya sendiri dari dalam.
Banyak orang hari ini pintar sekali dalam berargumen tentang kebaikan, tentang kebenaran, tentang keadilan. Kata-katanya begitu indah tersusun. Namun sangat konyol dalam mengimani apa yang ia katakan. Ia tahu semua teori tentang air, tapi ia membiarkan tetangganya mati kehausan di depan matanya.
Janganlah kita menjadi seperti gong yang besar, yang bunyinya nyaring terdengar sampai ke kampung sebelah, namun di dalamnya kosong.
Pada akhirnya, kedamaian yang sejati bukanlah ketika kita dikelilingi oleh orang-orang yang sependapat dengan kita. Kedamaian yang sejati adalah ketika kita mampu hidup dalam iman yang membuat kita tetap membantu dan menguatkan satu sama lain, bahkan kepada mereka yang pernah menjauh saat kita susah.
Karena hidup bukan dipuji. Jika semua mulai menjauh, jangan jual suara hatimu demi tepuk tangan yang semu. Jangan takut dengan masa depan, yang berkata benar disalahkan yang berkata salah dibenarkan, tetaplah menjadi orang benar, walau tak ada yang membela daripada ramai dalam kesalahan.
Jurnalis: BENNY TAMBORA

















Komentar