*Pekat, Dompu, NTB —* Kecamatan Pekat tengah berada pada titik krusial penentuan arah kepemimpinannya. Status Pelaksana Tugas (Plt) yang saat ini diemban oleh Darman, S,sos, menjadi diskursus publik yang hangat diperbincangkan di 12 desa se-Kecamatan Pekat. Arus aspirasi masyarakat mengalir deras, solid, dan terukur dalam satu tuntutan yang dinamis dan terarah: kukuhkan figur pengabdi yang merakyat sebagai Camat Pekat definitif.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tuntutan ini lahir dari rahim pengalaman empiris masyarakat, bukan dari rekayasa opini sesaat. Darman, S,sos bukanlah figur karbitan yang datang membawa proposal kekuasaan. Ia adalah birokrat tulen yang telah mendedikasikan lebih dari 20 tahun masa pengabdiannya di jajaran staf Kecamatan Pekat. Dua dekade adalah waktu yang sangat panjang untuk memahami denyut nadi sebuah wilayah. Ia hadir saat Pekat dilanda krisis, ia berdiri di garda terdepan saat konflik sosial memerlukan penyejuk, ia berjalan dari desa ke desa, dari dusun ke dusun, menyerap aspirasi petani, nelayan, dan pelaku UMKM dengan pendekatan yang humanis dan merakyat.
Untuk memahami mengapa figur camat di Pekat sangat menentukan, publik harus memahami latar belakang Kecamatan Pekat secara komprehensif. Pekat adalah kecamatan dengan lanskap yang membukau dan multidimensional. Di sektor pertanian dan perkebunan yang terintegrasi dengan wisata agro, Pekat menampilkan potensi yang luar biasa. Pertanian di Pekat menyangkut dua musim tanam jagung dua kali setahun yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat, selain komoditas kacang, kopi, dan aneka palawija di lereng Tambora yang kini berkembang menjadi daya tarik wisata pertanian dan perkebunan. Di sektor kelautan dan perikanan, pesisir Calabai dan Sori Tatanga menyimpan potensi bahari yang luar biasa, menjadi sumber penghidupan ribuan nelayan dan penyumbang signifikan terhadap Pendapatan Asli Daerah. Di sektor pariwisata, Pekat adalah gerbang utama menuju keajaiban dunia, Gunung Tambora. Destinasi seperti Danau Satonda di atas bukit di Kec. Pekat Kab. Dompu, dan savana Doroncanga menjadikan Pekat sebagai etalase pariwisata Dompu di mata nasional dan internasional. Tidak berlebihan jika secara ekonomis Pekat mencatatkan diri sebagai penyumbang income nomor dua terbesar dari delapan kecamatan se-Kabupaten Dompu. Wilayah se-strategis ini tidak boleh dipimpin oleh figur coba-coba.
Dalam kerangka Standar Operasional Prosedur (SOP) penataan birokrasi sebagaimana diatur dalam UU No. 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara, UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, serta PP No. 17 Tahun 2018 tentang Kecamatan, pengangkatan camat wajib berasaskan kompetensi, integritas, moralitas, dan pengabdian. Camat adalah perpanjangan tangan bupati di wilayah, sekaligus koordinator penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, dan pembinaan kemasyarakatan. Masyarakat Pekat dengan sangat dinamis dan terarah menjabarkan kriteria pemimpin yang mereka butuhkan: berintegritas, tidak transaksional, berjiwa merakyat, memahami adat istiadat, dan memiliki hasil kerja yang konkret. Bukan pemimpin yang pandai debat kusir di ruang rapat, namun miskin eksekusi di lapangan. Bukan pemimpin yang jauh dari rakyat, yang hanya hadir saat seremonial, namun absen saat rakyat membutuhkan solusi. Apabila pemerintah daerah keliru dalam menempatkan camat dari luar wilayah Pekat yang tidak memiliki kedekatan sosiologis dan rekam jejak pengabdian, maka hal itu akan menjadi preseden buruk. Stabilitas Kantibmas yang dinamis dan kondusif selama ini berpotensi terusik. Pembangunan yang berbasis kerakyatan dikhawatirkan akan berjalan tersendat karena pemimpinnya harus memulai dari nol untuk sekadar beradaptasi.
Sebagai pilar keempat demokrasi, KOMPAS MERDEKA COM selalu setia mengawasi, memantau, dan mengawal kehidupan sosial masyarakat, baik di bidang pemerintahan, pendidikan, kesehatan, maupun pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Kami hadir untuk memastikan bahwa setiap kebijakan penempatan pejabat publik berjalan sesuai SOP, transparan, akuntabel, dan berpihak pada kepentingan rakyat banyak, bukan pada kepentingan politik segelintir orang. Atas dasar itu, kami menyerukan kepada Bupati Dompu agar mendengarkan nurani 12 desa di Pekat. Kukuhkanlah figur pengabdi yang telah 20 tahun mengabdi dengan tulus. Percayakanlah masa depan mutiara selatan Dompu ini kepada putra pengabdi yang telah teruji oleh waktu. Pekat membutuhkan nakhoda yang mengenal setiap gelombang lautnya, bukan nakhoda yang baru belajar berlayar.
*Jurnalis: BENNY TAMBORA*
















Komentar