Tetap Semangat Raih Cita-Cita, Kisah Sandi dan Sefti dari Karawang yang Ditinggal Ibunda

- Penulis

Senin, 21 September 2026 - 00:33 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

🙏 Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
+ Donasi

KARAWANG, KompasMerdeka com.-– Di tengah kesibukan dan dinamika kehidupan masyarakat Kabupaten Karawang, terselip kisah haru sekaligus inspiratif dari dua bersaudara, Sandi Aria Nugraha dan Sefti Amanda.

Di usia yang masih belia, keduanya harus menghadapi kenyataan pahit setelah kehilangan sosok ibu tercinta yang telah berpulang ke rahmatullah. Namun, kehilangan tersebut tidak membuat Sandi dan Sefti menyerah pada keadaan.

Sebaliknya, pesan sang ibunda menjadi penyemangat bagi keduanya untuk terus belajar dan mengejar cita-cita.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sandi, sang kakak yang kini duduk di bangku kelas 5 Sekolah Dasar (SD), dikenal sebagai anak yang pendiam. Meski demikian, di balik sikapnya tersebut tersimpan keteguhan hati untuk tetap tegar menghadapi keadaan.

Sebagai kakak, Sandi juga berusaha memberikan semangat kepada adiknya, Sefti Amanda, yang masih duduk di kelas 3 SD. Keduanya saling menguatkan dalam menjalani hari-hari tanpa kehadiran sang ibu.

Kehilangan seorang ibu tentu bukan perkara mudah bagi anak-anak seusia mereka. Namun, nasihat yang pernah diberikan sang ibunda semasa hidup terus mereka ingat.

“Ibu selalu bilang, belajar yang rajin supaya jadi anak pintar. Sekarang kami harus lebih rajin belajar demi ibu,” tutur Sandi dengan mata berkaca-kaca.

Setiap pagi, Sandi dan Sefti tetap menjalani rutinitas sebagai pelajar. Dengan seragam sekolah dan tas berisi buku, keduanya berangkat menuntut ilmu dengan penuh semangat.

Sepulang sekolah, mereka juga berusaha membantu sang ayah dalam berbagai aktivitas di rumah. Meski harus menjalani kehidupan dengan kondisi yang tidak mudah, pendidikan tetap menjadi prioritas bagi keduanya.

Sang Ayah Bangga Melihat Ketegaran Kedua Anaknya
Ayah Sandi dan Sefti, M. Supartawijaya, mengaku terharu sekaligus bangga melihat ketegaran kedua buah hatinya dalam menghadapi kehilangan sang ibu.

Menurut Supartawijaya, kepergian istrinya merupakan kehilangan besar bagi keluarga. Namun, ia berusaha memberikan kekuatan kepada kedua anaknya agar tetap melanjutkan pendidikan dan tidak kehilangan semangat dalam mengejar masa depan.

“Kepergian istri saya tentu merupakan kehilangan yang sangat besar bagi kami sekeluarga. Namun, melihat ketegaran dan semangat Sandi dan Sefti, saya merasa terharu sekaligus bangga. Mereka adalah anak-anak yang harus terus mendapatkan dukungan agar bisa meraih cita-citanya,” ujar Supartawijaya.

Ia berharap Sandi dan Sefti dapat terus bersekolah, belajar dengan sungguh-sungguh, serta tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri dan memiliki masa depan yang baik.

Duka Bukan Alasan untuk Berhenti Bermimpi
Perjalanan Sandi dan Sefti menjadi gambaran bahwa kehilangan dan keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Di usia yang masih belia, keduanya justru belajar memahami arti ketegaran, tanggung jawab dan perjuangan.

Dukungan keluarga serta perhatian dari lingkungan sekitar menjadi bagian penting agar Sandi dan Sefti tetap memiliki semangat untuk menjalani pendidikan.

LKisah kedua bersaudara tersebut juga menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan, perhatian dan kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Di balik kesedihan yang mereka alami, masih ada harapan besar yang ingin diwujudkan. Sandi dan Sefti ingin terus belajar dan membuktikan bahwa pesan serta harapan sang ibunda akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.

Bagi masyarakat atau pembaca yang tergerak memberikan dukungan moral maupun bantuan pendidikan untuk Sandi dan Sefti, dapat menghubungi Redaksi BOKIR.ID untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Semoga semangat Sandi dan Sefti menjadi inspirasi bahwa kehilangan bukan akhir dari sebuah perjuangan. Selama masih ada harapan, cita-cita tetap harus diperjuangkan.

Follow WhatsApp Channel kompasmerdeka.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bukan Sekadar Pilih Tamping, Sidang TPP Lapas Pasir Pangarayan Bahas Hak Integrasi WBP
Pendapatan Rohul Naik Rp64,7 Miliar, Belanja Modal Justru Dipangkas Rp121,68 Miliar
Abaikan Prosedur K3, Pekerja Proyek Rehabilitasi SDN Kalibuaya 1 Telagasari Karawang Tuai Sorotan
Masyarakat Selayar Menanti Optimalisasi dan Kepastian Operasional Fasilitas Kopdes Merah Putih
Polemik Kota Garo Memanas, AWI Riau Minta Aparat Cegah Intimidasi dan Kekerasan
Berita ini 13 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 24 September 2026 - 05:23 WIB

Rabu, 23 September 2026 - 10:50 WIB

Bukan Sekadar Pilih Tamping, Sidang TPP Lapas Pasir Pangarayan Bahas Hak Integrasi WBP

Rabu, 23 September 2026 - 06:43 WIB

Rabu, 23 September 2026 - 04:30 WIB

Pendapatan Rohul Naik Rp64,7 Miliar, Belanja Modal Justru Dipangkas Rp121,68 Miliar

Selasa, 22 September 2026 - 09:46 WIB

Abaikan Prosedur K3, Pekerja Proyek Rehabilitasi SDN Kalibuaya 1 Telagasari Karawang Tuai Sorotan

Berita Terbaru

Uncategorized

Mengenal Nomor Sertipikat dan Makna yang Terkandung di Dalamnya

Kamis, 24 Sep 2026 - 05:30 WIB

Daerah

Kamis, 24 Sep 2026 - 05:23 WIB